DI Indonesia, tantangan yang dihadapi pengusaha ultra mikro dan mikro sering kali disederhanakan menjadi persoalan kurangnya modal. Padahal, bagi banyak pelaku usaha di berbagai daerah, hambatan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks, mulai dari akses pengetahuan, teknologi, legalitas usaha, hingga keterhubungan dengan pasar dan rantai pasok yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.Salah satu contoh nyata dialami oleh Ernawati, seorang petani cabai di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan pembiayaan mikro sebesar Rp5 juta per tahun hanya untuk kebutuhan dasar seperti bibit.Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat cuaca tidak menentu. Proses pengeringan cabai tradisional yang ia lakukan sangat rentan rusak saat hujan turun, yang secara langsung memangkas pendapatannya.Kondisi Ernawati mencerminkan realitas banyak pengusaha mikro: mereka terjebak dalam rantai nilai yang belum memberikan ruang untuk nilai tambah produk.”Pertumbuhan usaha tidak akan terjadi dalam sistem yang terfragmentasi. Karena itu, yang perlu diperkuat bukan hanya pengusahanya, tetapi juga keterhubungan antara pembiayaan, pasar, teknologi, aggregator, koperasi, dan rantai pasok,” ujar Faye Wongso, Founder & Chairperson KUMPUL Impact.Membangun Rantai Pasok InklusifMelalui program EmPower II yang berkolaborasi dengan UN Women dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), KUMPUL Impact memberikan solusi terintegrasi. Ernawati kini tidak hanya mendapat modal, tetapi juga akses terhadap teknologi pengering tenaga surya dan pengetahuan pascapanen. Hal ini memungkinkannya mengolah cabai segar menjadi produk bernilai tambah dengan daya simpan lebih lama.Selain rantai pasok fisik, KUMPUL Impact menyoroti kesenjangan digital yang tajam. Data KUMPUL Impact Report menunjukkan kurang dari 1% pekerja Indonesia memiliki kemampuan digital tingkat lanjut. Untuk itu, melalui program AI for MSME Advancement in ASEAN (AIM ASEAN) dan AI Ignition Indonesia, pelaku UMKM mulai diperkenalkan pada teknologi kecerdasan buatan (AI).Dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku usaha seperti Bu Neneng, pengusaha keripik tempe sejak 2018. Dengan bantuan AI, ia kini mampu membuat materi promosi dan desain produk secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada jasa eksternal, dan mempercepat proses pemasaran.Fokus KUMPUL Impact bukan sekadar mengajarkan teknologi, melainkan memastikan teknologi tersebut relevan untuk menyelesaikan tantangan harian. Temuan lapangan dari ribuan peserta ini juga menjadi dasar advokasi kebijakan di tingkat regional bersama ASEAN Coordinating Committee on Micro, Small and Medium Enterprises (ACCMSME).Fondasi Ekonomi BerkelanjutanMemasuki 2025, KUMPUL Impact terus memperluas jangkauan pendampingannya, termasuk kepada lebih dari 200 usaha milik perempuan di wilayah Nusa Tenggara Barat. Pendekatan yang menggabungkan akses pembiayaan hijau, penguatan rantai pasok, dan transformasi digital ini diharapkan menjadi model pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan tangguh terhadap perubahan iklim.Pengalaman para pelaku usaha ini membuktikan bahwa pertumbuhan UMKM tidak ditentukan oleh satu intervensi tunggal, melainkan sinergi antara teknologi, pasar, dan sistem pendukung yang saling terhubung.